Categories
ARTIKEL

Apa itu Sinyal Analog?

apa itu sinyal analog?

Apa itu sinyal analog? Dalam pemrosesan sinyal analog, ada konversi dari sinyal analog ke sinyal listrik dan kemudian dari sinyal listrik kembali ke sinyal analog asli. Sinyal analog terdiri dari semua rentang yang terlihat oleh mata manusia, dan rentang ini akan berkorelasi linier dengan waktu. Semua sinyal analog yang biasa kita miliki dalam komunikasi telepon, televisi, radio, dan bentuk media lainnya, berkorelasi linier dengan waktu. Karena sifatnya, mereka tidak dapat dianalisis oleh mata manusia dengan cara yang sama persis seperti jenis sinyal lainnya.Sinyal analog dapat digambarkan dengan respons frekuensinya atau jumlah waktu yang dibutuhkan amplitudo puncak untuk mencapai nilai terendahnya. Respon frekuensi adalah jumlah waktu yang diperlukan sinyal untuk mengulang dirinya sendiri saat diubah oleh modulasi frekuensi. Alasan di balik ini adalah agar kita dapat mendengar sinyal periodik, kita harus memiliki frekuensi yang berulang setiap siklus. Dalam pengertian inilah sinyal analog “berkala” berguna – mereka mampu menangkap esensi suara. Namun, penting untuk dicatat bahwa rentang frekuensi yang dapat diwakili oleh sinyal analog tergantung pada rentang yang melekat pada setiap frekuensi dan karakteristiknya.Ketika berbicara tentang amplitudo vs frekuensi, kita juga harus mempertimbangkan isi fase sinyal. Konten frekuensi diukur dalam radian, yang merupakan jumlah setengah nada yang dapat dikonversi menjadi nada lengkap dengan menggunakan konverter. Amplitudo di sisi lain diukur dalam satuan yang disebut kekuatan, yang sama dengan gaya yang diukur terhadapnya ketika frekuensi diubah. Contoh khas amplitudo adalah suara yang dihasilkan oleh mesin mobil. Jika kita membayangkan bentuk gelombang dengan satu nada lengkap pada frekuensi yang lebih tinggi dari yang lain, akan jelas bahwa suara frekuensi tinggi akan menghasilkan amplitudo yang lebih tinggi daripada suara frekuensi rendah.

Di masa lalu, secara luas diyakini bahwa tidak ada batasan mengenai frekuensi yang dapat diekspresikan oleh sinyal periodik. Namun, ini tidak terjadi lagi. Saat ini sudah banyak produsen yang memproduksi peralatan audio berkualitas tinggi yang fungsi utamanya adalah menangkap dan mengubah sinyal frekuensi tinggi menjadi sinyal frekuensi rendah. Dengan demikian, dimungkinkan untuk mengekspresikan suara frekuensi tinggi melalui media gelombang audio frekuensi rendah. Konversi amplitudo tinggi (HFO) menjadi frekuensi rendah (LFO) memungkinkan jenis sinyal tertentu memiliki konten frekuensi menengah yang sangat berbeda dari sinyal lain yang memiliki kualitas nada serupa.

Salah satu contoh perangkat tersebut adalah sistem VASCAR. VASCAR adalah singkatan dari Konverter Respon Penguat Keramik berkemampuan frekuensi sangat tinggi. Sistem VASCAR beroperasi berdasarkan prinsip akuisisi berganda pembagian waktu (TMS). Ini berarti bahwa perangkat VASCAR akan menerima sinyal yang sefasa dengan dirinya sendiri sementara itu mengubahnya menjadi frekuensi yang lebih tinggi. Proses tersebut dimungkinkan karena komponen amp keramik yang digunakan terbuat dari bahan semikonduktor yang mampu melakukan konversi tegangan frekuensi tinggi (Voltage) menjadi frekuensi rendah (Frequency Response).

Ada banyak keuntungan dari teknologi VASCAR. Salah satu manfaatnya adalah dapat menghilangkan kebutuhan akan metode demodulasi. Hal ini dikarenakan perangkat VASCAR hanya perlu menjalani satu kali pengukuran setelah itu semua pengukuran selanjutnya dilakukan dengan tegangan referensi. Ini juga menawarkan keuntungan yang lebih besar dalam hal mengubah sinyal analog frekuensi tinggi menjadi sinyal digital frekuensi rendah.

Categories
ARTIKEL

Apa itu Sinyal Digital ?

Apa itu Sinyal Digital ?

Apa itu sinyal digital? Digital Signal Processor (DSP) adalah mikroprosesor yang mengambil sinyal digital dan mengubahnya secara digital untuk melakukan serangkaian perhitungan matematis. Sebuah prosesor sinyal digital biasanya disebut prosesor sinyal digital (DSP) karena melakukan pemrosesan dan manipulasi matematika digital dalam sinyal digital, bukan melalui saluran analog. Sebuah prosesor sinyal digital dapat digunakan untuk berbagai tugas seperti demodulasi sinyal analog untuk tujuan demodulasi, atau untuk demodulasi sinyal digital untuk tujuan simulasi optik. Kadang-kadang digunakan bersama dengan modem untuk aplikasi akses jarak jauh dan sebagai akselerator Internet. DSP juga dapat digunakan sebagai penguat audio dan demodulator untuk membuat pengkondisian sinyal dan aplikasi kompresi.Sinyal digital dibawa oleh sinyal analog dalam bentuk pulsa listrik. Sinyal analog telah dikategorikan sebagai benar atau salah, dan proses menerima sinyal analog dan kemudian menafsirkannya memerlukan pemahaman sejumlah faktor. Ini termasuk konten frekuensi, yang merupakan ukuran jumlah waktu setiap pulsa akan bertahan, serta fase dan amplitudo sinyal. Selain faktor-faktor ini, jenis media yang dilalui sinyal yang ditransmisikan, dan karakteristik sinyal analog itu sendiri, seperti respons frekuensi, semuanya dapat memengaruhi interpretasi sinyal dan sinyal digital yang dihasilkan. Sinyal digital diproses oleh elektronik digital dengan cara yang sama seperti sinyal analog diproses – melalui tahapan, algoritme, atau kompresor.

Sinyal digital rentan terhadap interferensi dari sinyal digital lainnya, dan dengan demikian kecepatannya dapat sangat berkurang bila jenis interferensi ini ada. Sinyal digital memiliki bandwidth yang sangat tinggi dan oleh karena itu kecepatan transmisi sangat tergantung pada jumlah kekuatan sinyal yang ditransmisikan. Namun, beberapa sinyal digital memang memiliki bit rate yang rendah, atau laju transmisi per detik, di mana laju bit sebenarnya lebih besar dari laju bit maksimum yang diizinkan, dan dalam hal ini sinyal digital dikatakan ‘lebih cepat’ daripada sinyal analog. . Beberapa sinyal digital bahkan digunakan dalam siaran televisi, meskipun penggunaan ini sangat terbatas karena keterbatasan kecepatan transmisi.

Pemrosesan digital dilakukan dengan menggunakan apa yang disebut konverter analog-ke-digital atau ATC. ATC pada dasarnya adalah konverter yang menerima dan menerjemahkan sinyal dan kemudian memprosesnya menjadi bentuk digital untuk transmisi melalui gelombang udara. Ada berbagai jenis ATC, termasuk Bluetooth, Wi-Fi Direct, USB, dan ATC berbasis perangkat keras lainnya.Alasan mengapa sinyal digital dianggap jauh lebih cepat daripada sinyal analog adalah karena yang pertama adalah perangkat ‘tingkat milidetik’, dan sementara sinyal analog diukur dalam hitungan detik, sinyal digital diukur dalam siklus. Karena itu, transisi dari sinyal analog satu siklus ke sinyal digital dua siklus terjadi pada kecepatan yang jauh lebih cepat – sebuah siklus direpresentasikan sebagai waktu sekitar 400 picoseconds. Inilah alasan mengapa sinyal digital sering digunakan di banyak sistem komunikasi seluler saat ini, dan mengapa mereka lebih disukai. Sinyal digital dapat membawa lebih banyak informasi dalam setiap siklus, yang membuatnya jauh lebih efisien. Contoh yang baik tentang bagaimana informasi digital diproses dalam kenyataan adalah dengan menggunakan suara digital. Suara digital hanyalah cara untuk menyandikan informasi (bukan hanya mentransmisikannya) dalam bentuk sinyal suara, yang kemudian dikirim melalui gelombang udara.

Sinyal digital, di sisi lain, memiliki keunggulan lain dibandingkan sinyal analog, yaitu sinyal digital dapat diskalakan tanpa batas. Sederhananya, mereka dapat ‘bertumbuh’ sesuai kebutuhan – sinyal yang sama dapat dikirim melalui jarak yang lebih jauh menggunakan bandwidth yang jauh lebih tinggi (lebih banyak sinyal digital, lebih sedikit sinyal analog) dengan biaya tambahan yang sama. Digital juga memiliki manfaat tambahan karena tidak memerlukan perangkat keras atau perangkat lunak tambahan untuk memproses sinyal, yang sangat menurunkan biaya implementasi secara keseluruhan. Pada dasarnya, cara terbaik yang dapat dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa perangkat elektronik mereka (seperti laptop, ponsel, dan pemutar mp3) memiliki akses ke sinyal digital berkualitas tinggi, adalah dengan menerapkan sistem sinyal digital ‘selalu aktif’.

Categories
ARTIKEL

Tegangan Sinyal Analog

Tegangan sinyal analog

Pada artikel ini akan dibahas mengenai Tegangan sinyal analog. Modulasi lebar pulsa (PWM), yang juga dikenal sebagai “konversi digital-ke-analog” atau “pengkodean digital-ke-digital,” adalah sarana untuk mengkodekan sinyal analog ke bit biner tunggal. Sinyal PWM terdiri dari dua elemen utama yang menentukan perilaku digitalnya: frekuensi dan siklus kerja. Ini banyak digunakan dalam kontrol daya untuk peralatan elektronik seperti motor dan untuk aplikasi foto-voltaik seperti panel surya. Ini memiliki efisiensi tinggi, yang membuatnya ideal untuk aplikasi di mana konsumsi daya sangat penting.

Sirkuit PWM beroperasi berdasarkan prinsip momentum sudut. Momentum sudut suatu bentuk gelombang adalah perbedaan antara waktu yang diperlukan untuk berubah dari satu keadaan ke keadaan lain dan waktu yang diperlukan untuk membalikkan keadaan yang sama. Sirkuit PWM biasanya menggunakan potensiometer, perangkat yang merasakan output tegangan pada sinyal inputnya dan mengubah sinyal input tergantung pada nilai yang diukur.

Ada berbagai jenis sistem PWM termasuk; lebar pulsa cepat, lebar pulsa linier, dan lebar pulsa geser. PWM lebar pulsa cepat memiliki efisiensi tinggi. Namun, ini sering digunakan bersama dengan bentuk PWM lain seperti PWM linier atau non-interupsi. Dalam PWM non-interupsi, jumlah waktu yang diperlukan sinyal untuk bertransisi dari keadaan yang diinginkan ke titik awal tidak mempengaruhi sinyal keluaran. Dalam PWM lebar pulsa linier, di sisi lain, tingkat output yang berubah tergantung pada siklus kerja atau periode sinyal input.Rangkaian PWM biasanya dijalankan dengan penguat operasional. Operasi tersebut kemudian akan menghasilkan sinyal tegangan yang dapat diubah menjadi arus aktual menggunakan op amp. Jika sinyal input berada pada rentang level tinggi (V standby) arus keluaran akan menimbulkan arus yang lebih besar dari arus suplai. Dalam hal ini, penguat operasional akan mengaktifkan atau menonaktifkan arus sinyal input tergantung pada apakah arus tersebut cukup tinggi atau tidak untuk menyebabkan opamp menghasilkan arus surplus.Pada beberapa op amp, kontrol kecil yang dapat disesuaikan disediakan untuk memungkinkan pengguna mengontrol siklus kerja sinyal output. Tujuannya adalah untuk memungkinkan pengguna memvariasikan output tegangan tergantung pada tingkat arus dan tegangan. Ini dikenal sebagai modulasi lebar pulsa variabel (VPWM). Lampu berkualitas tinggi yang khas akan memiliki kemampuan untuk bekerja pada frekuensi setinggi 200 MHz dan memiliki fitur yang disebut ‘respons antena’ yang dirancang untuk memastikan sinyal keluaran tidak menjadi terlalu kuat atau terlalu lemah di seluruh jangkauan efektifnya.

Pilihan terakhir untuk beroperasi dengan VOP adalah dengan menggunakan Pemicu Schmitt. Pemicu Schmitt seperti op amp tetapi jauh lebih kuat. Ini dapat memberikan output tegangan yang jauh lebih tinggi daripada rangkaian ekivalennya, namun menggunakan jalur disipasi daya rendah yang membuatnya secara inheren lebih mahal. Pemicu Schmitt juga tidak akan mengizinkan pengguna untuk mengontrol siklus kerja, tetapi berguna untuk mengaktifkan rangkaian agar berfungsi saat mengganti sumber dan menghilangkan bias reset.

Categories
ARTIKEL

Sensor Gaya

sensor gaya

Sistem Alarm Sensor Gaya menjadi semakin populer, dan tidak lagi hanya untuk pemilik rumah yang sadar akan keamanan. Remote sensor gaya baru ini mampu merasakan bentuk magnet apa pun dari seseorang dan kemudian mengaktifkan sistem keamanan rumah pada tanda pertama aktivitas, memungkinkan Anda untuk memiliki gambaran waktu nyata tentang apa yang terjadi di dalam rumah Anda sebelum pencuri mencoba membuat mereka masuk. Anda akan dapat segera melihat apakah ada barang berharga yang telah dipindahkan atau tidak, sehingga Anda dapat langsung memanggil polisi.

Style Alarm berbeda dari sistem alarm nirkabel modern lainnya karena tidak memerlukan garis pandang langsung ke rumah. Ia bekerja dengan mendeteksi segala bentuk magnet seperti kalung, gelang, rantai, anting-anting atau bahkan jam saku. Setelah perangkat mendeteksi benda logam apa pun maka akan membunyikan alarm rumah secara otomatis. Ini memungkinkan Anda untuk tetap memiliki privasi penuh saat memantau penyusup potensial. Karena tidak memerlukan pandangan langsung, Style Sensor dapat ditempatkan di hampir semua ruangan di rumah.Anda mungkin berpikir bahwa menggunakan teknologi pada alarm rumah Anda tidak masuk akal, tetapi menggunakan Sensor Gaya bukanlah semacam fantasi. Perangkat keamanan rumah yang inovatif ini dirancang untuk memberi Anda ketenangan pikiran dan Anda harus menggunakannya setiap hari. Mereka benar-benar seperti memiliki sepasang mata ekstra yang mengawasi rumah Anda 24 jam sehari. Anda perlu memastikan bahwa Anda memasang Alarm Sensor Gaya yang benar di rumah Anda. Ada sejumlah pilihan di pasaran, jadi penting bagi Anda untuk memilih yang tepat untuk rumah Anda.

Ini adalah fitur penting dari Alarm Sensor Gaya karena sebenarnya dapat mendeteksi benda logam yang jauh lebih sensitif daripada hanya alarm pintu atau jendela. Ini berarti bahwa jika ada pencuri yang mencoba masuk ke rumah atau properti Anda, kemungkinan kecil mereka akan berhasil jika mereka mengetahui bahwa perangkat tersebut ada. Ini berarti bahwa Anda akan memiliki ketenangan pikiran yang jauh lebih baik dengan sistem keamanan rumah Anda dan itu dapat berarti perbedaan antara hidup dan mati dalam banyak situasi. Ketika pencuri tahu bahwa mereka akan menghadapi sistem keamanan rumah seperti itu, mereka akan pergi. Oleh karena itu, Anda perlu memastikan bahwa Alarm Sensor Gaya terhubung ke detektor ultra-sensitif.

Sistem alarm paling canggih memberi Anda kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia luar menggunakan kamera web. Kamera semacam itu dapat ditempatkan hampir di mana saja di properti Anda dan memungkinkan Anda melihat apa yang terjadi di rumah Anda saat Anda pergi. Tentu saja Anda harus memastikan bahwa Anda memiliki situs web sendiri di mana Anda dapat mengunggah gambar apa pun yang Anda inginkan, namun seringkali hanya ini yang Anda butuhkan. Ada juga sejumlah program perangkat lunak di luar sana yang dapat membantu Anda dengan sistem keamanan rumah Anda. Anda harus memeriksanya dan melihat saran apa yang dapat mereka tawarkan.

Sangat penting bagi Anda untuk memasang sistem keamanan rumah yang baik jika Anda ingin merasa aman dan nyaman di rumah Anda sendiri. Bahkan banyak pemilik rumah sekarang mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa mereka telah memasangnya, termasuk memasang alarm pencuri berteknologi tinggi dengan Alarm Sensor Gaya. Mereka tentu layak untuk dilihat, terutama jika Anda menginginkan sistem keamanan rumah terbaik. Jadi, baik Anda mencari sistem dasar atau model ultra-canggih yang memberi Anda perlindungan paling mutakhir, Alarm Sensor Gaya memiliki sesuatu untuk Anda!

Categories
Uncategorized

Exploring the relationships among service quality features, perceived value and customer satisfaction

Relationships among service quality features, perceived value and customer satisfaction, The purpose of this paper is to explore the relationships among service quality features (responsiveness, assurance, and empathy), perceived value and customer satisfaction in the context of Malaysia. The empirical data are drawn from 102 members of an academic staff of a Malaysian public institution of higher learning using a survey questionnaire. The results indicate three important findings: firstly, the interaction between perceived value and responsiveness was not significantly correlated with customer satisfaction. Secondly, the interaction between perceived value and assurance also did not correlate significantly with customer satisfaction. Thirdly, the interaction between perceived value and empathy correlated significantly with customer satisfaction. Thus the results demonstrate that perceived value had increased the effect of empathy on customer satisfaction, but it had not increased the effect of responsiveness and assurance on customer satisfaction. In sum, this study confirms that perceived value act as a partial moderating variable in the service quality models of the organizational sample. In addition, implications and limitations of this study, as well as directions for future research are discussed.

Service quality and customer satisfaction are inarguably the two core concepts that are at the crux of the marketing theory and practice (Spreng & Mackoy, 1996). In today’s world of intense competition, the key to sustainable competitive advantage lies in delivering high quality services that will in turn result in satisfied customers (Shemwell, Yavas, & Bilgin,1998). Therefore, there is not even an iota of doubt concerning the importance of service quality as the ultimate goal of service providers throughout the world (Sureshchandar, Rejendran, & Anantharaman,2002). In an era of intense global competition; many organizations have now shifted the paradigm of service quality to customer’s perspective (Parasuraman, Zeithaml, & Berry, 1985). Based on this paradigm, a customer will judge the quality of service accorded and determine whether it met his/her expectations (Grönroos, 1984; Parasuraman et al., 1985, 1988). Many scholars think that employee satisfaction with the accompanying service features may increase retention and loyalty (Alexandris, Dimitriadis, & Makata, 2002), thus paving the way to increased organizational competitiveness (Shemwell et al., 1998).

Service quality has been defined as a form of attitude – a long-run overall evaluation (Zeithaml, 1988; Parasuraman et al.,1988) whileperceived service quality as a general, overall appraisal of service. The global value judgement on the superiority of the overall service could occur at multiple levels in a particular organization (Sureshchandar et al.,2002). Many researchers such as Parasuraman et al. (1988), Juwaheer and Ross (2003) and Walker, Johnson and Leonard (2006) highlight that responsiveness, assurance and empathy as among the three most important service quality features.

Responsiveness has often been defined as the willingness of a service provider to provide the needful services accurately and promptly (Juwaheer & Ross, 2003). Assurance refers to credibility, competence and security in delivering those services (Juwaheer & Ross, 2003). Empathy is related to care, attention and understanding of the individual customer needs and interests when dispensing the prescriptive core services (Juwaheer & Ross, 2003).

Extant research in this area shows that the proper implementing and dispensing of the core service quality features may justifiably increase customer satisfaction (Gronroos, 1984; Parasuraman et al., 1988; Walker et al.,2006). In a quality management context, customer satisfaction is defined as a result of comparison between what a customer expects about services provided by a service provider and what the customer receives in actual terms (Caruana, Money, & Berthon, 2000; Parasuraman et al., 1988). If the service provided by an organization does meet a customer’s needs and expectations, then this may subsequently lead to higher customer satisfaction (Foster, 2004; Parasuraman et al., 1988; Walker et al.,2006).

Surprisingly, a thorough investigation of such relationships reveals that the effect of service quality features on customer satisfaction is not consistent if perceived value is present in organizations (Caruanaet al., 2000; Varki & Colgate, 2001). Perceived value is considered as customer recognition and appreciation on the utility of a product that is given by a service provider which may fulfil his/her expectation (Foster, 2004; Heininen, 2004; Walker et al., 2006). In a service management framework, many researchers are in tandem that responsiveness, assurance, empathy, perceived value and customer satisfaction are distinct constructs that are highly interrelated. For example, the ability of an organisation to incorporate the use of responsiveness, assurance and empathy in the delivering services will inadvertently promote an increase in customer perceptions of value; and this in turn will motion a higher level in customer satisfaction (Parasuraman et al., 1988; Sureshchandar, 2000; Sureshchandar et al., 2002).

Even though many studies have been carried out in this area of research, little is known about the moderating effect of perceived value in service quality models. Most studies have found that the mediating role of perceived value has been less emphasized in previous quality system research. This is because of an over emphasis of a segmented approach in analyzing service quality features, the heavy reliance on a direct effect model testing, and negligence pertaining to the role of human needs and expectations in developing previous service quality models (Bitner, 1990; Caruana et al., 2000). Consequently, the findings from such research approaches may not highlight the influence of perceived value as a moderating variable in service quality literature (Eggert & Ulaga, 2002; Sureschchandar et al., 2002).

The current study has three major relationships research questions: first, which features of service quality may affect customer satisfaction? Second, which features of service quality may affect perceived value? Finally, does perceived value affect the relationship between service quality features and customer satisfaction? Hence, this study is conducted to measure three main objectives: first, the relationship between the service quality features and customer satisfaction. Second, the relationship between the service quality features and perceived value. Lastly, the moderating effect of perceived value in the relationship between service quality features and customer satisfaction that occurs in one selected Malaysian public university in East Malaysia. For confidential reasons, the name of the institution is kept anonymous.

The remaining discussions of this paper relationships are structured as follows: first, to elaborate the related literature review and research hypotheses. Second, to describe the methodology and procedure involved in conducting the study; and finally to discuss the results of hypothesis testing and conclusion.

Categories
Uncategorized

Progress in airline distribution systems

Progress in airline distribution systems: The threat of new entrants to incumbent players, For decades, distribution has been a key ICT (Information and Communication Technology) area for airlines and this sector has been dominated by four (now three) Global Distribution Systems (GDSs) whose primacy has been threatened over the last four years by a set of new players, the so called GDS New Entrants (GNEs). GNEs emerged with the advent of the Internet and open source technology as ‘disintermediation’ facilitators and generated vast interest from airlines because they promised to reduce the cost of distribution. This paper explores the impact of ICTs on airlines with a focus on GDSs. It provides an overview of the changing market dynamics, analyses the environment that led to the appearance of GNEs and pinpoints the issues behind their until now failure to provide a true alternative to the GDSs. This analysis complements existing academic research in that it clarifies critical issues in the air travel distribution field and provides an overview of current industry developments..

Internet technology and web based commerce have dramatically transformed the airline industry in the last ten years (Werthner and Klein, 2005). Information and Communication Technologies (ICTs) have always played a predominant role in the airline sector (Poon, 1993; Inkpen, 1994; O’Connor, 1999; Werthner and Klein, 1999) but with the advent of the Internet and open source technology their impact is becoming increasingly more crucial and evident (Buhalis, 2004; Jacobsen et al., 2008). As travellers embraced the Internet, this enabled airlines to bypass the traditional distribution pattern through travel agencies and sell direct to end consumers (European Commission, 2006). Web distribution combined with cheaper and more flexible technologies allowed new players on the market, low cost airlines (LCCs), to implement effective low-cost direct distribution strategies and intensify competition in the sector (Dennis 2007; Buhalis & Law, 2008). Traditional airlines could not afford to rely on outdated distribution strategies and had to invest heavily in new technology to support their online Web sites, as post-September 11 harsh economic conditions and low-fare carriers transformed the marketplace and the needs and preferences of passengers changed (Franke, 2004; Binggeli & Pompeo, 2005; Dobruszke, 2006)

Distribution has been a key ICT area for airlines for decades and this sector is now dominated by three Global Distribution Systems (GDSs) whose primacy has been threatened over the last three years by a set of new players, the so called GDS New Entrants (GNEs).

This paper explores the interaction between technology and airline dstribution with a focus on GDSs. It provides a comprehensive review of the changing market dynamics, analyses the environment that led to the appearance of the GNEs, and assesses the issues behind their until now failure to provide a true alternative to GDSs. Finally, the paper draws conclusions from extensive research in industry data sources as well as from academic literature and interviews with industry experts. The extraordinarily dynamic nature of airline distribution makes any conjectures about future developments in the sector sound like crystal-ball predictions but experts seem to agree on a number of trends that are here to stay.

Categories
Uncategorized

An application for differential

An application for differential for Analysis of gender differences in the perception of properties, This paper presents the application of differential semantics to identify the semantic space (structure) used by men and women to describe their perception of properties on sale. 112 men and 43 women evaluated 112 images of flats on sale at the time of the study in the city of Valencia (Spain) using 60 adjectives. The set of attributes or variables which capture the user’s perception of a property in his own words (semantic axes) was identified using factor analysis of principal components. The semantic space of a property was described by 15 independent axes which explained 64% of the variability for males and 17 axes which explained 72.3% of the variance for females. The connection between the subject’s emotional response, expressed through the set of axes (15 for males and 17 for females) and the global evaluation in terms of the purchase decision was established. The results demonstrated significant differences in the variables used by both genders to express their perception of a property on sale and the weight of these variables on the purchase decision.

There are many studies which attempt to demonstrate how aesthetic evaluations of buildings are formulated or can be predicted. These predictions are of great interest to architects as they can be used to establish relations between users’ perceptions and each design element introduced.

Some of these studies have shown that certain sociodemographic or personality variables can affect these aesthetic evaluations. Thus for example, the studies of Wethman (1968), Royse (1969) and Michelson (1976) confirm that people of different education, income and social class view certain aspects of housing differently. Nasar (1989), also observed sociodemographic differences in the preferences of 6 styles of houses based on education, occupation, age or gender. In building interiors Gifford (1980) observed significant differences in response depending on age, gender, educational level and mood.

From among this set of variables, training in architecture has been the most analysed. In general, studies demonstrate that architects and non-architects perceive buildings differently. Differences have thus been found in the categories both groups use to interpret buildings (Groat, 1982); in the way they conceptualise them (Devlin, 1990); in the emotional responses both groups assign to a building’s design elements (Gifford et al., 2000) and even differences in their preferred architectural styles (Devlin & Nasar, 1989; Gans, 1978; Nasar, 1989).

Personality factors, such as someone’s sensation-seeking level, can also affect environmental preferences. For architecture, high sensation seekers would prefer higher levels of stimulus variation (for example, “high” style houses) while others would prefer more typical designs (for example, “popular” style houses) (Berlyne, 1971; Stamps & Nasar, 1997). Zuckerman (1994) summarizes over 400 experiments on this personality factor.

Another variable which could affect the process of environmental perception is everyday experience (Purcell & Nasar, 1992). Our experience of the environment consists of repeated encounters of different examples. Through these repeated encounters the individual experiences a process of unconscious learning (Lewicki et al., 1988) which is used to build a mental representation of preferred standards. Some research has found that observer preferences for buildings depend on the level of discrepancy between the type of building to be evaluated and the observer’s knowledge structure (Purcell, 1986, 1987; Purcell & Nasar, 1992). This approach could explain the differences in perception found between observers from different geographical areas. Consequently, groups living in a given geographical area are exposed to the same types of examples and therefore share similar patterns or standards of preference.

Furthermore, there are other demographic factors which can influence the process such as gender, age or political affiliation. Thus for example, Stamps (1991a,b) found that political affiliation (liberal, moderate, conservative) was related to preferences for high rise buildings and for houses. Differences have also been observed between men and women’s environmental cognition (Evans, 1980; Moore, 1979), although no in-depth analysis of the evaluation structure for both genders has been found in the literature. Thus, with regard to the perception of architectural styles, Nasar (1989) found that females in the city of Columbus judged a “farm” style to be more desirable than males did, and that females in the cities of Columbus and Los Angeles judged “farm” style as friendlier than males did. Stamps and Nasar (1997) obtained a 0.94 correlation between both groups when evaluating “high” and “popular” styles. Imamoglu (2000) studied the role of complexity in preference with 16 house facade drawings. The study reports that females perceived the houses as more complex than males. In a more recent study, Akalin et al. (2009) analysed the perception of 100 undergraduate students in Architecture and Engineering Departments. The individuals had to assess 15 photographs of house facades considering the roles of complexity, preference and impressiveness. The results showed significant differences in perceptions between gender groups. Other gender differences have been studied, such as, distance perception and the effects of the hidden buildings (Nasar et al., 1985).

Although the gender variable has generally been taken into account when segmenting the study population, no study has been found in the literature which deeply analyses the structure of preferences in both collectives.

Our question then is how are preferences formulated? The theory proposed by Brunswik in 1956 suggested that the relational process between the stimulus and the opinion or judgment emitted by the subject was an indirect one. Applied to the sphere of building design, this approach assumes that subjects respond to the particular characteristics of the building, integrate these reactions into emotional impressions and transfer those emotional impressions to an aesthetic evaluation of the building as a whole.

Categories
Uncategorized

Competitive universities need to internationalize learning

Competitive universities need to internationalize learning : Perspectives from three European universities, The process of restructuring European universities in order to harmonize their educational systems is rapidly approaching a key milestone as 2010 looms large on the horizon. This paper describes an approach to the European Higher Education Area (EHEA) based on a real case study of students that belong to five European Universities (University of Burgos, Technical University of Valencia, University of Valladolid, University of Basque Country and University of Applied Sciences Cologne). The objective of this paper is two-fold: on the one hand, to analyze from the student’s point of view how they value the restructuring of teaching as a result of the Bologna process and what are the implications for students with regards to both their academic qualifications and their future incorporation into the labour market; and, on the other hand, to deduce from the results obtained recommendations which may help to guide teachers towards successful internationalization and collaboration between interuniversity networks, as well as achieving greater standards of quality within university teaching. Only this would permit an environment in which students are capable of developing the necessary competences, and put into practice learning outcomes.

The results show that students value communication, innovative proposals and cooperation between universities; the internationalization of knowledge between universities has been positively accepted and this has motivated research to place a stronger focus on this aspect; it impacts strongly on scientific productivity, improves the quality of education offered by the teaching staff, and leads to greater student mobility. This strategy is intrinsically linked to learning from local experiences shared by members of the same university as well as from more global experiences made available through inter-university networks. It implies being willing to listen, to communicate, to engage in dialogue and means that we must seek to understand the potential contributions from teachers, staff and students that make up each university

Categories
blog

Ekskavator bagi Teknik Sipil

Ekskavator adalah alat berat berupa mesin yang digerakkan sendiri di atas roda atau rantai dengan superstruktur yang mampu berputar 360 °, yang menggali, memuat, mengangkat, memutar, dan membongkar material dengan tindakan ember yang dipasang ke boom dan perakitan keseimbangan, tanpa sasis atau struktur pendukung bergerak.

ekskavator alat berat

Ketepatan bidang kerja, seperti boom, keseimbangan, struktur pendukung, dll .; menetapkan dan menyatukan kriteria klasifikasi.

Klasifikasi Excavator alat berat

Dengan dorongannya

  1. Excavator kabel atau mekanis.
  2. Excavator Hidrolik.

Karena sistem terjemahannya:

  1. Track Mounted Excavator (Dilacak)
  2. Excavator yang Dipasang Beroda (Pneumatik)

Ekskavator Alat berat dapat digunakan untuk pekerjaan parit. Selain mesin ini dapat disesuaikan dengan kapasitas, aksesoris lain untuk melakukan tugas-tugas lain, seperti kasus driver tiang yang ditempatkan sebagai pengganti ember, yang memungkinkan peralatan untuk melakukan pekerjaan penggalian di tanah berbatu.

Alat ini yang paling banyak digunakan dan paling umum diketahui masyarakat. Penggunaan ekskavator haruslah menyesuaikan dengan lapangannya. Umumnya ekskavator terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan penggali yang ada di bagian depan.

Namun, semua memiliki kesamaan yaitu alat penggerak berupa ban atau crawler. Penggunaan crawler pada ekskavator memungkinkannya beroperasi di permukaan kasar atau kurang padat dan tidak memerlukan banyak pemindahan tempat. Untuk eksavator beroda lebih digunakan untuk pekerjaan dengan mobilitas lebih tinggi.

Perbedaan antara crawler dan excavator alat berat beroda :

RANTAI (TRACKS)
  1. Pelampung lebih besar
  2. Traksi lebih besar
  3. Kemampuan manuver yang lebih baik untuk medan yang sangat sulit
  4. Relokasi mesin lebih cepat
RODA
  1. Mobilitas meningkat
  2. Mereka tidak merusak trotoar
  3. Stabilitas yang lebih baik dengan stabilisator
  4. Meratakan mesin dengan stabilisator
  5. Kapasitas kerja blade lebih besar
Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to BLOG MAHASISSWA UNIVERSITAS MEDAN AREA. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!